You are here Vol 5 No 2 Oktober 2010

Jurnal Psikologi Proyeksi Vol. 7 No. 2 Oktober 2012 / Sulistiyanto & Widjanarko

E-mail Print PDF

PENGALAMAN PERSONAL TENTANG ARTI DAN MAKNA KEMATIAN PADA PENGIKUT JAMAAH TAREKAT NAQSYABANDIYYAH KHOLIDIYYAH

Sulistiyanto1) & Mochamad Widjanarko2)

1)2) Fakultas Psikologi Universitas Muria Kudus (UMK)

E-mail : This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it

 

Abstrak

Pengikut jamaah tarekat Naqsyabandiyyah kholidiyyah mempunyai amalan khusus yang diyakini akan memberikan barokah kebahagiaan ketika ia sudah mati, amalan ini yaitu ataqoh kubro dan ataqoh sugro, sedangkan amalan umumnya adalah menjalankan sholat, puasa, zakat, berbuat baik kepada sesama, mencari nafkah kepada keluarga dan semua aktivitas yang baik dan diniati karena Allah.

Penelitian ini memiliki  tujuan untuk mengetahui pengalaman personal tentang arti dan makna kematian pada pengikut Tarekat Naqsyabandiyyah Kholidiyyah di Desa Japan Kudus. Penelitian ini adalah penelitian kualiatif dengan melakukan pendekatan fenomenologis. Teknik pengumpulan data yang digunakan wawancara dan pengamatan terlibat dengan dua informan yang mengikuti tarekat Naqsyabandiyyah Kholidiyyah.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pengikut tarekat Naqsyabandiyyah Kholidiyyah memaknai hidup di dunia ini tidak lain hanyalah untuk beribadah Kepada Allah semata. Hidup itu perlu keseimbangan antara hablum minallah dan hablum minannas. Hidup di dunia ini, adalah sarana mencari bekal untuk hidup di akhirat. Supaya kehidupan di akhirat bahagia maka ia harus memperbanyak amalan ibadahnya ketika di dunia. Kematian dimaknai sebagai balasan dan hukuman, semakin banyak amal kebaikan yang dilakukan di dunia maka semakin banyak kebahagiaan di akhirat nantinya. Meskipun semuanya itu kembali kepada kehendak Allah.

Kata kunci : arti mati, makna matian, amalan khusus dan amalan umum

PERSONAL EXPERIENCE ABOUT THE MEANING OF DEATH BASED ON THE UNDERSTANDING OF TAREKAT NAQSYABANDIYYAH KHOLIDIYYAH FOLLOWERS

 

Abstract

The followers of Tarekat Naqsyabandiyyah Kholidiyyah have either special practice such as Ataqoh Kubro and Ataqoh Sugro, believed to give happiness after death or common practice such as praying, fasting, tithing, doing good to other people, earning a living for family and all activities conducted because of Allah.

This study aimed at finding out personal experience of the followers of Tarekat Naqsyabandiyyah Kholidiyyah in the Village of Japan, Kudus, about meaning of death. This study belonged to qualitative study conducted by using phenomenology. The technique of data gathering included interview and observation done by 2 informants joined the activity.

Result of the study showed that the followers of Tarekat Naqsyabandiyyah Kholidiyyah interpreted this living as an attempt to only serve Allah. Life needed balance between Hablum minallah and Hablum minannas. Therefore, living in this universe was one way to get life provision for hereafter. To get a good life after death, charity and worship to Allah had to be propagated. Death was also interpreted as a revenge and punishment, the more charity one did, the more happiness he would get after. Even though, it went back to the willingness of Allah.

Keywords: Meaning of death, special and common practice

 

Full text : Pdf